Rabu, 13 Maret 2013

Simpan Pinjam di Koperasi, Riba dan Solusinya


Islam melarang riba seperti perintah ALLAH SWT dalam surat Al Baqarah:275-276 dan 278, Ali Imran :130, Ar Rum :39. Anda dapat melihat penggalan ayat tersebut diatas beserta terjemahannya seperti yang kami salin dari http://www.koperasisyariah.com/hukum-riba-menurut-alquran/ pada bagian paling bawah dari artikel berikut.
Lalu apa yang merisaukan penulis ? kami mendapati bahwa praktik riba ini sudah menjadi lumrah pada kegiatan simpan pinjam di Koperasi, sedangkan banyak perusahaan yang memiliki Koperasi pegawai sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan maupun penunjang kegiatan perusahaan induk.
Pada praktik pinjam di Koperasi, peminjam meminjam sejumlah uang dan mengembalikan dengan periode waktu tertentu namun menambahkan uang pengembaliannya tersebut. Contoh : Fulan bin Fulan meminjam Rp. 5.000.000  dan disepakati masa pengembalian selama 10 bulan, maka Fulan bin Fulan harus mengembalikan sejumlah Rp.550.000 / bulan.
Berdasarkan ilustrasi diatas kami bertanya kepada beberapa Ustad dan menelaah beberapa tulisan di internet (termasuk dari http://www.koperasisyariah.com) kami berkesimpulan hal tersebut diatas merupakan praktik riba.
Bahaya dari praktik riba tersebut baik yang meminjamkan maupun yang dipinjamkan sama-sama menerima dosa, sedangkan pendapatan terbesar dari Koperasi adalah unit simpan pinjam yang notabene SHU nya dibagikan ke seluruh pegawai.
lalu kami mulai berpikir dan memiliki konsep sebagai berikut :
Bagaimana jika simpan dan pinjam di Koperasi bukan dalam bentuk uang namun dalam bentuk emas, tentu emas bisa dengan segera dikonversi menjadi uang, karena emas merupakan Logam Mulai yang mudah dicairkan. Tidak sembarang emas yang dipakai dalam transaksi simpan pinjam melainkan emas batangan yang di produksi oleh PT. Antam, alasannya karena emas PT.Antam mudah untuk dicairkan, memiliki sertifikat berskala internasional, harga emas dapat dipantau secara online melalui situs PT.Antam dan berbagai macam alasan yang dapat anda googling.
Lalu bagaimana teknisnya ?
Contoh : Fulan bin Fulan meminjam emas seberat 10 gr emas pada Koperasi dan bersedia membayar 10 gr emas selama 10 bulan, dari ilustrasi diatas tidak ada penambahan (riba) karena Fulan bin Fulan berhutang 10 gr emas dan mengembalikan 10 gr emas.
Lalu darimana keuntungan Koperasi ?
Pada saat pengembalian hutang, anggota koperasi diwajibkan membeli emas melalui Koperasi dari situlah Koperasi memperoleh pendapatan karena perbedaan harga jual dan beli emas, alasannya sebagai berikut :
1. Menjaga standarisasi emas, mencegah dari penipuan dan meminimalisasi biaya operasional.
    Jika masing-masing anggota membayar hutang emas tersebut dengan membeli emas dari luar Koperasi maka tidak dapat dipastikan kemurnian, keaslian dari emas tersebut, selain itu berat dari emas tersebut harus diperiksa,dengan begitu memerlukan karyawan untuk memeriksa emas pengembalian dari anggota.
2.Mempermudah pengembalian hutang dari anggota.
    Koperasi yang dibentuk oleh perusahaan biasanya menggunakan skema potong gaji dalam pengembalian hutang ke koperasi, dengan begitu tidak ada kredit macet dan memastikan unit simpan pinjam terus beroperasi. Dengan skema potong gaji tersebut Koperasi dapat memotong gaji sejumlah harga per gram emas yang sudah disepakati oleh anggota yang meminjam.
contoh ilustrasi : Fulan bin Fulan meminjam emas seberat 10 gr emas pada Koperasi dan bersedia membayar 10 gr emas selama 10 bulan, harga 10 gram emas di PT.Antam (saat ini 13-3-2013 Rp. 5.312.000 sedangkan harga beli kembali Rp. 4.950.000) nah maka jika Fulan memutuskan untuk menjual emas tersebut ke Koperasi dia akan menerima Rp. 4.950.000 dan dia akan mengembalikan sejumlah Rp. 5.312.000 + Rp. 159.360 = Rp. 5.471.360 dibagi 10 bulan jadi perbulannya di akan membayar Rp. 547.136 (Rp 159.360 adalah 3% dari Rp 5.312.000 ini untuk mengantisipasi harga fluktuatif yang mungkin akan terjadi pada harga emas dalam 10 bulan ke depan) tidak mesti 3% namun bisa ditentukan lebih detail lagi.

Setiap transaksi peminjaman atau penyimpanan seseorang harus mengisi formulir, nah di formulir tersebut diberikan pilihan emas yang dipinjam akan diambil dan dijual sendiri atau dijual ke Koperasi. Namun dalam penyimpanan uang anggota langsung dikonversi ke berat emas.

Berbedakah dengan sistem sekarang ? apakah memerlukan tempat penyimpanan emas yang besar ?
Dengan hadirnya emas maka sistem simpan pinjam tentu harus menghadirkan emas, namun jumlah tersebut tidak terlalu banyak mengingat anggota akan diarahkan untuk meminjam dan menjual kembali emas tersebut di koperasi yang sama, mengenai tempat penyimpanan dapat ditempatkan dalam brankas yang harganya terjangkau serta diberikan sistem CCTV, saya pikir itu tidak terlalu repot mengingat ancaman sangsi Riba dari Allah SWT yang sangsinya amat pedih diakhirat, dan mengurangi keberkahan didunia.
Pada Prinsipnya dengan melibatkan emas maka Koperasi secara tidak langsung terjun dalam bisnis jual beli emas, emas merupakan komoditi yang tahan terhadap inflasi dan merupakan investasi jangka panjang yang baik bahkan lebih baik dari properti.
Konsep ini dapat dikembangkan juga dengan pinjaman yang memberikan agunan seperti BPKB Motor / Mobil atau sertifikat tanah, hanya sedikit lebih repot karena harus menyediakan divisi verifikasi keaslian BPKB / sertifikat tanah serta menyediakan kasir dengan deteksi uang palsu karena anggota yang meminjam tidak melakukan pembayaran melalui potong gaji melainkan menyetorkan uang tunai.
Demikian ide kami diatas semoga bermanfaat, dibawah ini beberapa salinan ayat suci Alquran tentang riba.
Tulisan diatas ditulis dalam upaya membuat Koperasi Karyawan tempat kami bekerja jauh dari praktik riba,dan berharap ALLAH SWT Ridho terhadap upaya ini, dan membukakan pintu hati petinggi perusahaan  dan Koperasi agar mau merubah sistem yang telah berlaku menjadi sistem syariah.


الَّذِينَ يَأْكُلوُنَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَن جَآءَهُ مَوْعِظَةُُ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Orang-orang yang makan (mengambil) riba[174] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[175]. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu[176] (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah:275)
catatan kaki:
[174]. Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl.
Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan.
Riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. Riba yang dimaksud dalam ayat ini riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman jahiliyah.
[175]. Maksudnya: orang yang mengambil riba tidak tenteram jiwanya seperti orang kemasukan syaitan.
[176]. Riba yang sudah diambil (dipungut) sebelum turun ayat ini, boleh tidak dikembalikan.
يَمْحَقُ اللهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ
Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah[177]. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa[178].(Al-Baqarah:276)
catatan kaki:
[177]. Yang dimaksud dengan memusnahkan riba ialah memusnahkan harta itu atau meniadakan berkahnya. Dan yang dimaksud dengan menyuburkan sedekah ialah memperkembangkan harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipat gandakan berkahnya.
[178]. Maksudnya ialah orang-orang yang menghalalkan riba dan tetap melakukannya.
يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَذَرُوا مَابَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. (Al-Baqarah:278)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُّضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda[228]] dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (Ali ‘Imran:130)
[228]. Yang dimaksud riba di sini ialah riba nasi’ah. Menurut sebagian besar ulama bahwa riba nasi’ah itu selamanya haram, walaupun tidak berlipat ganda. Lihat selanjutnya no. [174].
وَمَآءَاتَيْتُم مِّن رِّبًا لِيَرْبُوا فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلاَ يَرْبُوا عِندَ اللهِ وَمَآءَاتَيْتُم مِّن زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللهِ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ
Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). (Ar-Rum:39)

1 komentar:

  1. Terima kasih atas Sharingnya, solusi yang super sekali...
    Sedikit menambahkan, bagi rekan-rekan pengurus dan pengelola Koperasi Potong Gaji yang ingin menerapkan Sistem Komputerisasi Akuntansi, bisa simak link berikut Mudahnya Transaksi Simpanan dan Pembiayaan Kolektif serta Laporan Potongan Gaji pada Software Armadillo Syariah

    BalasHapus